
Penjelasan Surat Al-Baqarah Ayat 1–123
1. Ayat 1–5 – Ciri orang beriman
Alif Lām Mīm: huruf muqatta‘ah, hanya Allah yang mengetahui maknanya.
Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang bertakwa.
Ciri mereka: beriman kepada hal ghaib, mendirikan salat, menafkahkan rezeki, dan yakin akan akhirat.
Pesan: Petunjuk Allah hanya efektif bagi orang yang mau tunduk dan beriman.
—
2. Ayat 6–16 – Ciri orang kafir dan munafik
Orang kafir tidak mau menerima kebenaran meski diberi peringatan.
Orang munafik berpura-pura beriman; Allah membiarkan mereka dalam kesesatan.
Perumpamaan: mereka seperti orang yang menyalakan api lalu padam — kehilangan cahaya petunjuk.
Pesan: Keimanan palsu lebih berbahaya dari kekafiran terbuka.
—
3. Ayat 17–20 – Perumpamaan orang munafik
Mereka seperti orang yang ditimpa hujan badai, takut petir dan petunjuk kebenaran.
Pesan: Munafik takut pada kebenaran karena hati mereka tidak mantap.
—
4. Ayat 21–29 – Seruan kepada manusia untuk menyembah Allah
Allah menciptakan bumi dan langit, menyediakan rezeki.
Tantangan: buatlah satu surat seperti Al-Qur’an jika ragu.
Pesan: Tauhid adalah dasar iman; yang menolak akan diazab dengan api neraka.
—
5. Ayat 30–39 – Kisah penciptaan Adam
Allah menjadikan manusia khalifah di bumi.
Iblis menolak sujud karena sombong.
Adam dan Hawa diuji di surga, lalu diturunkan ke bumi.
Pesan: Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah; taubat diterima jika disertai penyesalan.
—
6. Ayat 40–46 – Seruan kepada Bani Israil
Allah mengingatkan nikmat-Nya dan meminta mereka menepati janji.
Diperintahkan menegakkan salat dan sabar, serta tidak menyembunyikan kebenaran.
Pesan: Umat pilihan seharusnya menjadi teladan dalam ketaatan.
—
7. Ayat 47–50 – Nikmat Allah kepada Bani Israil
Allah menyelamatkan mereka dari Fir‘aun dan menenggelamkan musuh.
Pesan: Syukur atas nikmat harus diwujudkan dalam ketaatan.
—
8. Ayat 51–54 – Kisah penyembahan anak sapi
Saat Nabi Musa pergi menerima wahyu, sebagian Bani Israil menyembah anak sapi.
Musa menegur mereka dan menyeru untuk bertaubat.
Pesan: Syirik adalah dosa besar; namun pintu tobat selalu terbuka.
—
9. Ayat 55–61 – Keingkaran mereka terhadap nikmat
Mereka menuntut melihat Allah langsung, disambar petir, lalu dihidupkan kembali.
Allah menurunkan manna dan salwa, tetapi mereka tidak bersyukur.
Pesan: Keserakahan dan ketidaksyukuran menjauhkan rahmat Allah.
—
10. Ayat 62 – Prinsip keselamatan
Siapa pun yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh akan mendapat pahala.
Pesan: Keselamatan tergantung iman dan amal, bukan suku atau golongan.
—
11. Ayat 63–66 – Pelanggaran hari Sabat
Bani Israil melanggar larangan bekerja di hari Sabat.
Allah mengubah mereka menjadi kera sebagai hukuman.
Pesan: Pelanggaran terhadap hukum Allah membawa kehinaan.
—
12. Ayat 67–73 – Kisah sapi betina (Asal nama surat)
Bani Israil diperintahkan menyembelih sapi untuk mengungkap pembunuhan.
Mereka banyak bertanya dan memperumit perintah Allah.
Pesan: Taatlah tanpa berdebat; perintah Allah selalu mengandung hikmah.
—
13. Ayat 74 – Hati yang keras
Setelah melihat banyak tanda, hati mereka tetap keras seperti batu.
Pesan: Hati yang tertutup sulit menerima petunjuk.
—
14. Ayat 75–82 – Sikap ahli kitab
Mereka tahu kebenaran tetapi menyembunyikannya.
Namun, ada juga sebagian yang jujur.
Pesan: Jangan menukar kebenaran dengan keuntungan duniawi.
—
15. Ayat 83–86 – Pelanggaran janji Bani Israil
Allah perintahkan berbuat baik dan tidak menumpahkan darah, tetapi mereka melanggar.
Pesan: Janji tanpa amal nyata tidak bernilai.
—
16. Ayat 87–93 – Penolakan terhadap para rasul
Mereka membunuh nabi-nabi dan menolak risalah yang datang kemudian.
Pesan: Sombong dan iri hati menutup hati dari petunjuk.
—
17. Ayat 94–96 – Kecintaan pada dunia
Mereka mengaku kekasih Allah tapi sangat cinta dunia.
Pesan: Dunia bukan ukuran kemuliaan; akhiratlah tempat kembali.
—
18. Ayat 97–103 – Tentang malaikat Jibril dan sihir
Malaikat Jibril membawa wahyu kepada Nabi.
Sihir di masa Sulaiman bukan dari ajaran nabi.
Pesan: Iman kepada malaikat adalah bagian dari tauhid; sihir dilarang keras.
—
19. Ayat 104–105 – Larangan menghina Rasul
Dilarang memakai ucapan yang meniru ejekan orang Yahudi.
Pesan: Hormati Nabi dan jaga adab berbicara.
—
20. Ayat 106–112 – Nasakh dan keikhlasan iman
Allah mengganti hukum sesuai hikmah-Nya.
Agama yang benar hanyalah Islam yang tunduk pada Allah.
Pesan: Taat pada wahyu terbaru tanda keimanan sejati.
—
21. Ayat 113–121 – Perdebatan Yahudi dan Nasrani
Masing-masing mengklaim kebenaran.
Allah menegaskan kebenaran hanya pada orang yang tunduk kepada-Nya.
Pesan: Ketakwaan lebih penting dari klaim kelompok.
—
22. Ayat 122–123 – Peringatan tentang hari pembalasan
Bani Israil diingatkan bahwa hanya amal saleh yang menyelamatkan.
Pesan: Kemuliaan datang dari takwa, bukan keturunan.

1 124–141 Kisah Nabi Ibrahim diuji dan diangkat sebagai imam bagi manusia Kepemimpinan dan kemuliaan ditentukan oleh ketaatan kepada Allah
2 142–150 Perintah mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah Ketaatan terhadap perintah Allah di atas kebiasaan lama
3 151–157 Perintah berdzikir, bersabar, dan menghadapi ujian dengan sabar Cobaan adalah ujian iman; sabar mendatangkan rahmat
4 158 Hukum sa’i antara Shafa dan Marwah Ibadah haji dan umrah adalah syiar Allah
5 159–162 Ancaman bagi yang menyembunyikan wahyu Ilmu agama wajib disampaikan, jangan disembunyikan
6 163–167 Bukti keesaan Allah dan penyesalan orang musyrik di akhirat Tauhid adalah fondasi iman
7 168–173 Perintah makan yang halal dan larangan yang haram Menjaga kehalalan makanan bagian dari ketaatan
8 174–176 Ancaman bagi yang menjual ayat Allah dengan harga murah Jangan menjadikan agama alat mencari keuntungan dunia
9 177 Arti kebajikan sejati (birr) Iman, amal saleh, dan menegakkan keadilan adalah kebajikan sejati
10 178–179 Hukum qishash (balasan setimpal untuk pembunuhan) Keadilan ditegakkan agar kehidupan terjaga.
11 180–182 Hukum wasiat bagi orang tua dan kerabat Wasiat harus adil, tidak merugikan ahli waris
12 183–187 Hukum puasa Ramadhan Puasa menumbuhkan ketakwaan dan disiplin diri
13 188 Larangan memakan harta orang lain secara batil Kejujuran ekonomi bagian dari iman
14 189–196 Hukum haji, umrah, dan berbagai adabnya Ibadah harus sesuai syariat, bukan tradisi semata
15 197–203 Tata cara ibadah haji dan larangan berdebat saat haji Haji melatih kesabaran dan ketakwaan
16 204–207 Sikap munafik dan orang yang beriman sungguh-sungguh Nilai iman dilihat dari keikhlasan, bukan kata-kata
17 208–210 Seruan untuk masuk Islam secara total Islam harus dijalankan sepenuhnya, bukan setengah-setengah
18 211–212 Peringatan agar tidak sombong seperti umat terdahulu Dunia hanya sementara; akhirat lebih baik
19 213 Semua manusia dahulu satu umat, lalu diutus para nabi Tujuan agama adalah menegakkan keadilan dan petunjuk
20 214–218 Ujian iman dan pahala bagi yang berhijrah Ujian adalah syarat menuju kemenangan iman
21 219–220 Hukum khamar dan judi (tahap awal larangan) Keduanya lebih banyak mudarat daripada manfaat
22 221–242 Hukum keluarga: nikah, cerai, iddah, nafkah, dan hak istri Keluarga harus dibangun dengan adil dan penuh kasih
23 243–252 Kisah Bani Israil, Thalut, dan Jalut (Goliath) Keimanan dan keberanian membawa kemenangan
24 253 Perbedaan keutamaan para rasul Semua rasul mulia, tapi derajat mereka berbeda sesuai tugasnya
25 254–257 Seruan berinfak dan ayat Kursi (ayat 255) Allah Maha Hidup dan Maha Kuasa; infak bukti iman
26 258–260 Kisah Nabi Ibrahim dan kekuasaan Allah menghidupkan makhluk Keimanan diperkuat dengan bukti kebesaran Allah
27 261–274 Keutamaan bersedekah dan larangan riya Sedekah yang ikhlas seperti benih yang tumbuh subur
28 275–281 Larangan riba dan ancaman keras bagi pelakunya Riba menghancurkan keberkahan; tinggalkan semua bentuknya
29 282 Ayat terpanjang: hukum utang piutang dan pencatatan transaksi Islam mengatur keadilan ekonomi dengan tertib administrasi
30 283–284 Amanah dan kejujuran dalam pinjaman Allah mengetahui segala sesuatu, sekecil apa pun
31 285–286 Penutup: iman para mukmin dan doa perlindungan Allah tidak membebani di luar kemampuan; doa penutup Al-Baqarah

